January 24, 2026

Musdat Pemersatu: Yance Boyau Pimpin LMHA Suku Kamoro

PENGUKUHAN – Ketua Pendiri LMHA Mimika Wee, Philipus Monaweyau melakukan pengukuhan Pengurus LMHA Kamoro Periode 2025–2030 hasil Musdat LMHA di Gedung Tongkonan pada Kamis (4/12/2025). (FOTO:ISTIMEWA/PANITIA)

MIMIKA, PE – Gedung Tongkonan di Timika, yang biasanya sunyi di tengah keramaian-pikuk kota, berubah menjadi ruang penuh harapan pada Rabu dan Kamis, 3–4 Desember 2025.

Di ruang itulah, suara-suara yang sejak lama tertahan akhirnya menemukan tempat pulang.

Para tokoh adat, mama-mama Kamoro dengan kain timor yang terikat rapi, para bapa dengan mata yang menyimpan kenangan sepanjang pesisir, berkumpul untuk satu tujuan: menyatukan kembali Kamoro melalui Musyawarah Adat (Musdat) LMHA.

Sudah satu dekade lamanya lembaga adat ini berdiri tanpa pengurus yang pasti.

Tak ada pemimpin yang memikul suara masyarakat, tak ada pintu resmi penyelesaian persoalan adat, tak ada tangan yang menuntun generasi muda melewati perubahan zaman.

Oleh karena itu, Musdat kali ini terasa lebih dari sekadar pemilihan. Ia adalah perjalanan pulang.

Ketika proses pemungutan suara dimulai, suasana hening seperti doa.

Dari 70 kampung yang hadir mewakili 13 wilayah adat, 89 suara terpanggil satu per satu.

Nama Yohanes Yance Boyau kemudian perlahan menjadi gumam, lalu gema, hingga akhirnya tepuk tangan pecah ketika ia mengugguli sembilan calon lainnya.

Yohanes Yance Boyau memperoleh 24 suara mengungguli 9 kandidat lainnya, yaitu Fredy Sony Otiamona (18 suara), Edward Yulius Omeyaro (14 suara), Damianus Samin (13 suara), Hendrikus Atapemame (9 suara), Plasidus Natipia (8 suara), Shaban Mamapa Narwena (2 suara), dan Yohanes Moporteyau (1 suara).

Sementara Plasidius Mampuku dan Damianus Awiyuta tanpa perolehan suara.

Selepas pemilihan dan penghitungan suara, Ketua Pendiri LMHA Mimika Wee, Philipus Monaweyau langsung menetapkan Ketua LMHA Suku Kamoro dan dilakukan pengukuhan secara adat.

Beberapa mama Kamoro meneteskan air mata, bukan karena kalah atau menang, tapi karena sebuah penantian panjang akhirnya terjawab.

“Ini hari yang Tuhan buka pintu,” bisik seorang mama sambil meremas tangan anaknya.

Menggunakan suara, suasana berubah sakral. Ketua Pendiri LMHA Mimika Wee, Philipus Monaweyau, melangkah maju.

Dengan ritual adat yang dijalankan penuh kehormatan, ia mengukuhkan Yohanes Yance Boyau sebagai Ketua LMHA Kamoro periode 2025–2030. Bersama empat pengurus LMHA Suku Kamoro lainnya, yaitu Wakil Ketua I (Iyouwe) Fredy Sony Otiamona, Wakil Ketua II (Amaroweyaike): Damianus Samin, Wakil Ketua III (Amarowe): Hendrikus Atapemame, dan Wakil Ketua IV (Mamerawe): Edward Yulianus Omeyaro.

Pengukuhan itu bukan sekedar seremonial, ia seperti menyatukan kembali ikatan yang sempat longgar di tubuh Kamoro.

selanjutnya menunggu pengesahan pemerintah melalui keputusan resmi, untuk ditindaklanjuti hingga Kemendagri.

Di deretan kursi depan, beberapa bapa adat terlihat menunduk, menutup mata, seperti berbicara dalam hati kepada leluhur yang menjaga tanah pesisir dari generasi ke generasi.

Dalam sambutannya, Yance Boyau yang akrab disapa Yance berbicara pelan namun tegas.

Ia menyampaikan terima kasih, sekaligus janji. Janji untuk menjaga wilayah batas adat, untuk memulihkan martabat Kamoro, dan membawa generasi muda keluar dari kegelapan pendidikan dan persoalan sosial yang menjerat.

“Kita tidak mau melihat anak-anak kita tidur di emperan, jalan tanpa arah,” ucapnya, membuat beberapa hadirin kembali menyeka air mata.

Mimpinya yang panjang: menghidupkan kembali adat dan ukiran Kamoro, membangun museum budaya, memperkuat festival Kamoro Kakuru, hingga memastikan bantuan pendidikan dan kesehatan menyentuh daerah pesisir yang sering dilupakan.

Bahkan persoalan tapal batas akan ia urus dengan cara yang ditinggalkan nenek moyang: musyawarah, bukan kekerasan.

Musdat kali ini pun berakhir dengan damai, aman, dan penuh haru. Pengamanan TNI–Polri berjalan dengan tenang, seperti mengawal momentum penting bagi sebuah masyarakat yang ingin berdiri tegak kembali.

Ketika matahari mulai turun di balik Tongkonan, pelukan antarwarga, tawa kecil, dan air mata bahagia menutup rangkaian Musdat. Kamoro pulang ke Kamoro.

Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, mereka kembali memiliki pemimpin adat yang lahir dari suara mereka sendiri.

Itulah hari ketika Kamoro kembali menyatu. (yang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This will close in 0 seconds