April 18, 2026

Warna-warni Perayaan 29 Tahun Mimika: 400 Pelaku UMKM, Noken, dan Seni Bertemu di Panggung Rakyat

FOTO BERSAMA - Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimik, Samuel Yogi, didampingi Dina Merani, Ketua TIFA Creative, foto bersama usai mengunjungi ratusan pelaku UMKM di Pasar Sentral Timika, Selasa (23/9). (FOTO:ISTIMEWA)

TIMIKA, PE – Di bawah langit Mimika yang cerah, aroma kopi lokal dan anyaman noken bersaing merebut perhatian pengunjung.

Bukan hari pasar biasa, tapi hari di mana ratusan pelaku UMKM berkumpul, bukan sekadar untuk berdagang, tapi untuk merayakan sesuatu yang lebih besar, yaitu kebersamaan.

Selama tiga hari, 6–8 Oktober 2025, Pasar Sentral Mimika akan menjadi ruang hidup yang penuh warna.

 Sebanyak 400 pelaku usaha dari berbagai kampung, suku, dan sektor hadir dalam FFstival UMKM dan Pameran, sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-29 Kabupaten Mimika.

Samuel Yogi, Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika, berdiri di tengah deretan tenda pelaku usaha, wajahnya penuh semangat.

“Ini bukan sekadar ulang tahun. Ini tentang memperkuat rasa memiliki, rasa bersama. Inilah Mimika Rumah Kita,” ucapnya, mengutip tagline kabupaten yang kini kian terasa bermakna.

Tagline itu bukan sekadar slogan. Ia menjelma dalam bentuk nyata—dari mama-mama pengrajin noken yang menyulam benang budaya, hingga pengusaha muda yang membawa produk digital dan kuliner kreatif. Semua mendapat ruang. Semua diberi panggung.

Yang paling menyentuh, mungkin adalah momen ketika 400 mama Papua pengrajin noken menerima sertifikat UNESCO.

Di tangan mereka, noken bukan lagi sekadar tas tradisional. Ia adalah simbol ketekunan, warisan, dan kini, pengakuan dunia. Titus Pekei, yang menyerahkan langsung sertifikat itu, menyebutnya sebagai “kado dunia untuk ibu-ibu Mimika.”

Tak hanya produk dan budaya, seni lokal juga mendapat tempat terhormat.

Di balik layar panggung, Dina Merani, Ketua TIFA Creative, sibuk mengatur rundown. “Karena ini Mimika Rumah Kita, kita beri panggung untuk rapper, penari, dan band lokal dari Amungme dan Kamoro.

Tapi kita juga hadirkan musisi nasional, agar mereka tahu: Mimika punya potensi,” katanya sambil tersenyum.

Di sisi lain, Alfo Smith, Art Director festival ini, menyebut kegiatan ini sebagai “pesta rakyat yang inklusif.”

Menurutnya, semua unsur masyarakat terlibat, dari pelaku usaha, seniman, birokrat, hingga komunitas akar rumput.

“Di sini, tak ada yang dilupakan. Semua punya tempat,” tegasnya.

Festival ini menjadi oase di tengah tantangan yang dihadapi banyak pelaku usaha lokal, terutama pasca-pandemi dan dalam upaya pemulihan ekonomi.

Di Mimika, ulang tahun bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang yang menyatukan; antara harapan dan kenyataan, antara peluh dan panggung.

Malam tiba. Lampu-lampu mulai menyala. Musik dari panggung utama menggema di antara tenda-tenda UMKM.

Seorang pengunjung, mama dari Timika Pantai, tertawa sambil memegang hasil kerajinan tangan—kain tenun yang ia beli dari tetangganya sendiri.

Di Mimika Rumah Kita, tak ada yang terlalu kecil untuk dirayakan. Karena di sinilah rumah tumbuh—dari tangan yang bekerja, hati yang berbagi, dan semangat yang tak pernah berhenti menyalakan cahaya kebersamaan. (*/)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This will close in 0 seconds